GAGASAN PEMBENTUKAN PUSAT BUDAYA MADURA

GAGASAN PEMBENTUKAN PUSAT BUDAYA MADURA

sapiKementerian Pendidikan dan Kebudayaan menggagas pembentukan pusat kebudayaan Madura, yang akan menjadi pusat pengkajian, penerapan dan promosi budaya Madura.

“Pusat kebudayaan Madura itu bukan sekadar untuk orang Madura, tapi untuk bangsa dan negara, karena itu pusat kebudayaan Madura nantinya bukan hanya mengurusi Bahasa Madura,” kata Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh.

Pusat kebudayaan itu akan menjadi sarana pelestarian budaya Madura. “Karena itu budaya yang dikembangkan juga bukan hanya tradisi, tapi juga sistem tata nilai masyarakat Madura,” katanya.

Pelaksana Tugas Direktur Jendral Kebudayaan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Prof. Kacung Marijan menambahkan, pusat kebudayaan itu akan mengggali dan mengembangkan tradisi dan cipta karsa masyarakat Madura.

“Nantinya, Pusat Kebudayaan Madura itu bisa melekat pada Fakultas Ilmu Budaya di Universitas Trunojoyo Madura (UTM), tapi bentuknya lebih dari pusat studi, karena itu kami akan bekerja sama dengan UTM dan universitas lain, budayawan Madura, dan pusat-pusat tradisi Madura yang ada,” katanya.

(E011) http://www.antaranews.com/berita/351137/pemerintah-gagas-pembentukan-pusat-budaya-madura

Editor: Maryati

Incoming search terms:

Macam Kerapan Sapi

Kerapan SapiDi Madura dijumpai beberapa macam “kerapan sapi” yang memberikan klasifikasi kepada jenis dan kategori peserta karapan tersebut. Berbagai macam karapan sapi itu adalah sebagai berikut:

Kerap Keni’ (Kerapan Kecil)

Kerapan jenis ini diadakan pada tingkat kecamatan atau kewedanaan. Para peserta adalah yang berasal dari daerah yang bersangkutan. Sapi kerap dari luar tidak diperbolahkan turut serta. Jarak tempuh hanya 110 meter. Dalam kategori ini yang diutamakan adalah kecepatan dan lurusnya. Kerap keni ini biasanya diikuti oleh sapi-sapi kecil dan baru belajar. Pemenangnya merupakan peserta untuk mengikuti kerap raja.

Kerap Rajha (Kerapan Besar)

Kerapan besar ini disebut juga kerap negara, umumnya diadakan di ibukota kabupaten pada hari Minggu. Ukuran lapangan 120 meter. Pesertanya adalah juara-juara kecamatan atau kewedanaan.

Kerap Onjhangan (Kerapan Undangan)

Kerapan undangan adalah pacuan khusus yang diikuti oleh peserta yang diundang baik dari dalam kabupaten maupun luar kabupaten. Kerapan ini diadakan menurut waktu keperluan atau dalam acara peringatan hari-hari tertentu.

Kerap Karesidenen (kerapan tingkat keresidenan)

Kerapan ini adalah kerapan besar yang diikuti oleh juara-juara kerap dari empat kabupaten di Madura. Kerap karesdenan diadakan di kotaPamekasan pada hari Minggu, merupakan acara puncak untuk mengakhiri musim kerapan.

Kerap jhar-ajharan (kerapan latihan)

Kerapan latihan tidak tertentu harinya, bisa diadakan pada setiap hari selesai dengan keinginan pemilik atau pelatih sapi-kerap itu. Pesertanya adalah sapi lokal.

Persyaratan sapi-kerap tidaklah banyak, asalkan sapinya kuat dan diberi makanan yang cukup, dilatih lari, dipertandingkan dan diiringi dengan musik saronen. Konon beberapa pemilik sapi-kerap juga melengkapi kehebatan sapinya dengan menggunakan mantra-mantra serta sajian tertentu. Sesungguhnya hal ini tidak dibenarkan dalam aturan sebuah lomba atau kerapan.

Pelaksanaan Kerapan

Sebelum kerapan dimulai semua sapi-kerap diarak memasuki lapangan, berparade agar dikenal. Kesempatan ini selain digunakan untuk melemaskan otot-otot sapi karena sudah ditambatkan, juga merupakan arena pamer akan keindahan pakaian/hiasan sapi-sapi yang akan berlomba. Sapi-sapi itu diberi pakaian berwarna-warni dan gantungan-gantungan genta di leher sapi berbunyi berdencing-dencing. Setelah parade selesai, pakaian hias mulai dibuka. Hanya pakaian yang tidak mengganggu gerak tubuh sapi saja yang masih dibiarkan melekat.

Maka dimulailah babak penyisihan, yaitu dengan menentukan klasemen peserta, peserta biasanya pada babak ini hanya terpacu sekedar untuk menentukan apakah sapinya akan dimasukkan “papan atas” atau “papan bawah”. Hal ini hanyalah merupakan taktik bertanding antarpelatih untuk mengatur strategi.

Selanjutnya dimulailah ronde penyisihan pertama, kedua, ketiga dan keempat atau babak final. Dalam ronde-ronde ini pertandingan memakai sistem gugur. Sapi-sapi kerap yang sudah dinyatakan kalah tidak berhak lagi ikut pertandingan babak selanjutnya.

Dalam mengatur taktik dan strategi bertanding ini masing-masing tim menggunakan tenaga-tenaga trampil untuk mempersiapkan sapi-sapi mereka. Orang-orang itu dikenal dengan sebutan: (1) tukang tongko’, joki yang mengendalikan sapi pacuan; (2) tukang tambeng, orang yang menahan kekang sapi sebelum dilepas; (3) tukang gettak, orang yang menggertak sapi agar pada saat diberi aba-aba sapi itu melesat bagaikan abak panah ke depan; (4) Tukang tonja, orang yang bertugas menarik dan menuntun sapi agar patuh pada kemauan pelatihnya; (5) tukang gubra, anggota rombongan yang bertugas bersorak-sorak untuk memberi semangat pada sapinya dari tepi lapangan. Mereka tidak boleh memasuki lapangan dan hanya sebagai suporter.

Demikian sekilas tentang kerapan sapi di Madura yang sudah merupakan acara hiburan tradisi yang masih lestari sebagai konsumsi wisatawan, tetapi juga telah membawa akibat positif bagi masyarakat Madura di bidang ekonomi, kreatifitas budaya dan sekaligus juga telah melestarikan penghargaan masyarakat terhadap warisan budaya nenek moyang.

Tulisan ini diambil dari:
Tim Koordinasi Siaran Direktorat Jenderal Kebudayaan. 1991. Aneka Ragam Khasanah Budaya Nusantara II. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Incoming search terms:

Budidaya Salak Se’ Nase’ Bangkalan

Budidaya Salak Se’ Nase’ Bangkalan

Salak Bangkalan

Salak Bangkalan

Menjadi komoditi asli Bangkalan dan menjadi primadona saat ini, sayangnya belakangan menjadi mahal dikarenakan kebun salak di Bangkalan semakin sempit, Salak “Se’nase’ ” adalah salah satu jenis yang ada di masyarakat, yang bisa dikembangkan oleh siapa saja, tidak ada salahnya menyimak cara-cara berikut

PERSIAPAN LAHAN

-       Membongkar tanaman yang tidak diperlukan dan mematikan alang-alang serta menghilangkan rumput-rumput liar dan perdu dari areal tanam.

-       Membajak tanah untuk menghilangkan bongkahan tanah yang terlalu besar.

PERSIAPAN BIBIT

Pilihlah bibit yang bermutu bagus ,tidak cacat dan   tidak tercampur dengan kotoran lain (Murni)

a) Bibit dari Biji:

1. Biji salak dibersihkan dari sisa-sisa daging buah yang masih melekat.

2. Rendam dalam air bersih selama 24 jam, kemudian dicuci.

b) Bibit dari Anakan:

1. Pilih anakan yang baik dan berasal dari induk yang baik

2. Siapkan potongan bambu, kemudian diisi dengan media tanah

PENANAMAN

-       Lubang tanam dibuat dengan ukuran 30 x 30 x 30 cm dengan jarak tanam 1 x 4 m; 2 x 2 m atau 1,5 x 2,5 m. Ukuran lubang dapat juga dibuat 50 x 50 x 40 cm,dengan jarak antar 2 x 4 m atau 3 x 4 m. Setiap lubang diberi pupuk kandang yang telah jadi sebanyak 10 kg.

-       Biji ditanam langsung dalam lubang sebanyak 3- 4 biji per lubang. Sebulan kemudian biji mulai tumbuh

PEMELIHARAAN

1)      Penjarangan dan Penyulaman

Untuk memperoleh buah yang berukuran besar, maka bila tandan sudah mulai rapat perlu dilakukan penjarangan. Biasanya penjarangan dilakukan pada bulan 4 atau ke 5.Penyulaman dilakukan pada tanaman muda atau yang baru ditanam, tetapi mati atau pertumbuhannya kurang bagus atau kerdil, atau misalnya terlalu banyaktanaman betinanya. Untuk keperluan penyulaman kita perlu tanaman cadangan (biasanya perlu disediakan 10%) dari jumlah keseluruhan, yang seumur dengan tanaman lainnya. Awal musim hujan sangat tepat untuk melakukan penyulaman. Tanaman cadangan dipindahkan dengan cara putaran, yaitu mengikutsertakan sebagian tanah yang menutupi daerah perakarannya. Sewaktu membongkar tanaman, bagian pangkal serta tanahnya kita bungkus dengan plastik agar akarakar di bagian dalam terlindung dari kerusakan, dilakukan dengan hati-hati.

 

2) Penyiangan

Penyiangan adalah membuang dan memebersihan rumput-rumput atau tanaman pengganggu lainnya yang tumbuh di kebun salak. Tanaman pengganggu yang lazim di sebut gulma ini bila tidak diberantas akan menjadi pesaing bagi tanamansalak dalam memperebutkan unsur hara dan air. Penyiangan pertama dilakukan pada saat tanaman berumur 2 bulan setelah bibit ditanam, penyiangan berikutnya dilakukan tiap 3 bulan sekali sampai tanaman berumur setahun. Setelah itu penyiangan cukup dilakukan setiap 6 bulan sekali atau 2 kali dalam satu tahun, dilakukan pada awal dan akhir musim penghujan.

3) Pembubunan

Sambil melakukan penyiangan, dilakukan pula penggemburan dan pembumbunan tanah ke pokok tanaman salak.

 

4) Perempalan dan Pemangkasan

Daun-daun yang sudah tua dan tidak bermanfaat harus dipangkas. Juga daun

yang terlalu rimbun atau rusak diserang hama. Tunas-tunas yang terlalu banyak harus dijarangkan, terutama mendekati saat-saat tanaman berbuah (perempalan).

Dengan pemangkasan, rumpun tanaman salak tidak terlalu rimbun sehingga kebun yang lembab serta pengap akibat sirkulasi udara yang kurang lancar diperbaiki. Pemangkasan juga membantu penyebaran makanan agar tidak hanya ke daun atau bagian vegetatif saja, melainkan juga ke bunga, buah atau bagian generatif secara seimbang. Pemangkasan dilakukan setiap 2 bulan sekali, tetapi pada saat mendekati masa berbunga atau berbuah pemangkasan kita lakukan lebih sering, yaitu 1 bulan 1kali.

PEMUPUKAN

a) 0-12 bulan (1 x sebulan): Pupuk kandang 1000, Urea 5 gram, TSP 5 gram, KCl 5 gram.

b) 12-24 bulan (1 x 2 bulan): Urea 10 gram, TSP 10 gram, KCl 10 gram.

c) 24-36 bulan (1 x 3 bulan): Urea 15 gram, TSP 15 gram, KCl 15 gram.

d) 36–dst (1 x 6 bulan): Urea 20 gram, TSP 20 gram, KCl 20 gram.

PENGAIRAN DAN PENYIRAMAN

Air hujan adalah siraman alami bagi tanaman namun itu saja tidak cukup karna musim hujan juga tidak tentu, maka pemberian air harus sesuai kebutuhan dan waktu.

PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT

Hama yang ada pada salak adalah kutu wol, kumbang penggerek. Sedangkan untuk penyakit yang biasa menyerang adalah cendawan putih yang dapat di kendalikan dengan Insecktisida

PEMANENAN

Pililah buah salak yang sudah tua (jika kulit buah berwarna kehitaman atau kuning tua) jika pemilihan dilakukan dengan baik maka mutu buah akan baik pula.

(Ipoeng)

Sumber Gambar: anneahira.com

Incoming search terms: